Selasa, 16 Oktober 2007

Penataan Metropolitan Pontianak

Potensi utama kota Pontianak ini adalah terdapatnya Sungai Kapuas sebagai andalan sumberdaya airnya. Sungai Kapuas memiliki fungsi sebagai prasarana transportasi, wisata, sumber air bersih, dan sumber irigasi. Sayangnya Sungai ini belum dapat dimanfaatkan dengan baik seperti sebagai sumber PLTA dan prasarana transportasi umum sampai ke pedalaman. Bahkan informasi terakhir sungai ini BOD dan COD nya sudah melampaui ambang batas dan bahkan terdapat kandungan Mercury.

Metropolitan Pontianak merupakan kawasan strategis nasional karena memiliki peran penting dalam pengembangan Pulau Kalimantan dan merupakan pusat pertumbuhan kawasan perbatasan. Pengembangan Kota Pontianak sebagai kota Metropolitan diharapkan dapat mendorong perkembangan kota-kota sekitarnya dan dapat meningkatkan peran kota ini dalam pengembangan Kalimantan.

Penataan Metropolitan Pontianak harus dilakukan dengan memanfaatkan potensi utamanya yaitu pengembangan potensi Sungai Kapuas. Pelabuhan Pontianak sebagai Pelabuhan Nasional dapat diandalkan sebagai pusat koleksi dan distribusi barang dan transportasi untuk melayani wilayah belakangnya.

Pelabuhan Pontianak perlu terkoneksi dengan Pelabuhan udara dan rencana jalan arteri trans Kalimantan untuk menignkatkan peran Kota Pontianak sebagai pusat pertumbuhan wilayah Kalimantan Barat dan menjadi Counter Magnet dari arah pergerakan yang selama ini berorientasi ke Kota Kuching (Malaysia)

Pengembangan Kota Pontianak dilakukan dengan Konsep "Water Front City" atau pengembangan kota berorientasi air Sungai Kapuas.

Atap Hijau

Atap hijau adalah upaya intensifikasi taman atap, atau upaya memadukan sistem bangunan dengan sistem penghijauan atap sehingga dapat diciptakan taman melayang (sky garden). Berbeda dengan atap hijau ekstensif yang hanya menghasilkan taman pasif, atap hijau intensif dapat berperan sebagai taman aktif sebagaimana taman di darat.
Dengan lapisan tanah mencapai kedalaman hingga dua meter, atap hijau intensif mensyaratkan struktur bangunan khusus dan perawatan tanaman cukup rumit. Jenis tanaman tidak hanya sebatas tanaman perdu, tetapi juga pohon besar sehingga mampu menghadirkan satu kesatuan ekosistem.
Manfaat atap hijau bukan hanya sebatas peningkatan nilai estetika dan penghematan energi, pengurangan gas rumah kaca, peningkatan kesehatan, pemanfaatan air hujan, serta penurunan insulasi panas, suara dan getaran, tetapi juga penyediaan wahana titik temu arsitektur dengan jaringan biotop lokal. Perannya sebagai “batu loncatan” menjembatani bangunan dengan habitat alam yang lebih luas seperti taman kota atau area hijau kota lainnya.
Walaupun investasi yang dibutuhkan untuk membuat atap hijau cukup tinggi, bukan berarti upaya peduli lingkungan ini bertentangan dengan semangat mengejar keuntungan ekonomi, terbukti kini banyak fasilitas komersial yang menerapkan konsep atap hijau intensif. Salah satu di antaranya adalah Namba Park, sebuah mal gaya hidup di pusat kota Osaka.

Jerde Partnership merancang Namba Park sebagai mal bertema gurun yang dipadu atap hijau berlapis-lapis menyerupai lahan terasering. Namba Park memiliki taman atap seluas 8.000 meter persegi dengan 40.000 tanaman, termasuk 35 jenis tanaman pohon dan 200 jenis tanaman bunga.
Sistem irigasi atap hijau Namba Park menggunakan teknik penyiraman sprinkle yang diadopsi dari metode tradisional pendinginan jalan di Jepang, yaitu air hujan yang mengalir melalui jalan ditampung di bawah perkerasan jalan untuk kemudian ditapis kembali ke permukaan jalan dengan sistem kapiler. Hasil penelitian menunjukkan, selama proses evaporasi suhu permukaan atap hijau dapat ditekan hingga 25° Celsius lebih rendah dibandingkan dengan permukaan aspal.
Atap hijau kompleks Namba Park terbukti mampu mengurangi dampak panas akibat kegiatan di dalam bangunan maupun panas yang dihantarkan sosok bangunan. Hasil pengukuran suhu yang dilakukan perusahaan Obayashi selama tiga hari pada musim panas Agustus 2003 menunjukkan, rata-rata suhu atap hijau mencapai 17° Celsius lebih rendah dibandingkan dengan atap parkir di dekat Namba Park. Sedangkan panas yang ditransmisikan atap hijau ke dalam bangunan hanya mencapai sepersepuluh dari transmisi panas atap beton konvensional.

(Disarikan dari Kompas, 7 Oktober 2007 Oleh: Evawani Ellisa, Pengajar di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia.)